Program Sanitasi Wet SWG Sasar Warga Pesisir Tanjungpinang, Masyarakat Dapat Pelatihan Dan Upah

Kota Tanjungpinang – Upaya meningkatkan akses sanitasi yang layak bagi masyarakat pesisir di Kota Tanjungpinang terus dilakukan melalui program Wet Safe Water Gardens (Wet SWG). Program yang menyasar warga Kelurahan Kampung Bugis dan Senggarang ini tidak hanya menyediakan fasilitas sanitasi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam proses pembangunan dengan memberikan pelatihan serta upah kerja.
Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, meninjau pelaksanaan program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) bersama Founder and CEO-Member of the Board Safe Water Gardens, Dr. Marc van Loo, dan Yayasan LooLa Komunitas di RT 01/RW 05 Kampung Madong, Kamis (8/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, enam rumah warga mendapatkan penanganan fasilitas sanitasi. Tiga rumah dibangun dengan fasilitas Wet SWG baru, sedangkan tiga rumah lainnya memperoleh perbaikan sanitasi.
Raja Ariza mengatakan, program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir dengan kondisi rumah di atas air.
“Dengan program ini masyarakat bisa merasakan manfaatnya dan merasa nyaman,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Tanjungpinang terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak swasta dalam memperluas program serupa. Kerja sama tersebut juga berpotensi dikembangkan melalui edukasi mengenai kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Kita bisa mengolaborasikan apa yang bisa kita ambil manfaatnya dari kegiatan ini. Bagaimana kolaborasi ini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.
Wet SWG Jadi Alternatif Solusi Sanitasi Rumah di Atas Air
Founder dan CEO Safe Water Gardens, Dr. Marc van Loo, menjelaskan bahwa masyarakat yang tinggal di rumah di atas air menghadapi tantangan sanitasi yang berbeda dibandingkan warga di daratan. Salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah pembuangan limbah toilet secara langsung ke perairan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Wet SWG dirancang khusus bagi rumah di atas air dengan menggabungkan fasilitas kamar mandi yang layak dan sistem pengolahan limbah di bagian bawahnya.
“Wet SWG terdiri dari dua bagian. Pertama, kamar mandi yang layak. Kedua, sistem Wet SWG di bawah kamar mandi yang menampung dan mengolah limbah toilet,” jelas Marc.
Pada tahun ini, pembangunan Wet SWG di Tanjungpinang ditargetkan mencapai 300 unit. Untuk tahap awal, sebanyak 100 unit direncanakan dibangun, dengan rincian 30 unit di Kelurahan Senggarang dan 70 unit di Kelurahan Kampung Bugis.
Sebelumnya, sekitar 93 unit Wet SWG telah dibangun di wilayah Senggarang.
Marc mengapresiasi dukungan Pemko Tanjungpinang terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat memerlukan sinergi antara pemerintah dan pihak swasta agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak warga.
“Pemko merespons dengan cepat. Program seperti ini tentu tidak dapat hanya dikerjakan pemerintah sendiri, tetapi perlu kolaborasi dengan pihak swasta,” ucap Marc.
Libatkan Warga dalam Pembangunan Sanitasi
Ketua Yayasan LooLa Komunitas, Jaya Putra, menyampaikan bahwa program Wet SWG ditargetkan mencapai 300 unit. Ia berharap pemerintah kota dapat melanjutkan program tersebut melalui kolaborasi dengan perusahaan dan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
“Untuk mencapai target 300 unit, mudah-mudahan Pemko bisa meneruskan melalui kolaborasi dengan CSR. Jadi lebih kepada replikasi,” tuturnya.
Selain memberikan akses terhadap fasilitas sanitasi, program ini juga mengedepankan pemberdayaan masyarakat setempat. Warga pemilik rumah diajarkan cara membuat sistem Wet SWG dan dilibatkan langsung dalam pengerjaan pembangunan di rumah masing-masing.
Atas keterlibatan tersebut, warga juga mendapatkan upah sehingga program ini tidak hanya memberikan manfaat dari sisi sanitasi, tetapi turut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan dan penghasilan.
“Dalam kegiatan ini kita mengajarkan masyarakat, jadi mengedukasi warga. Mereka yang punya rumah ikut mengerjakan dan dibayar. Jadi bukan berarti cuma-cuma, kita berdayakan masyarakat setempat dan ajarkan cara membuat sistemnya,” pungkasnya.
Sumber: Pemko Tanjungpinang
