Tanjungpinang

Pemprov Kepri Tingkatkan Kemampuan Bedah Jantung RSUD Raja Ahmad Tabib

Gubenrur Kepri, Ansar Ahmad bersama jajaran manajemen RSUD Raja Ahmad Tabib berfoto bersama Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota, Kamis (8/10/2026). (Enji/DISKOMINFO KEPRI)

TANJUNGPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan rujukan agar masyarakat dapat memperoleh penanganan penyakit jantung kompleks di daerah sendiri tanpa harus dirujuk ke Jakarta.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Proctorship Bedah Jantung yang diselenggarakan RSUD Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepulauan Riau bersama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita. Kegiatan ini berlangsung di RSUD Raja Ahmad Tabib, Tanjungpinang, Kamis (8/10/2026).

Program proctorship merupakan bentuk pendampingan yang mencakup pengawasan serta transfer pengetahuan dan keterampilan secara langsung (transfer of knowledge and skill) dari tenaga ahli atau dokter senior kepada dokter dan tim medis di RSUD Raja Ahmad Tabib.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menyampaikan bahwa peningkatan layanan kesehatan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Hal ini terutama ditujukan untuk memastikan masyarakat di wilayah kepulauan mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas tanpa harus bergantung pada fasilitas kesehatan di luar daerah.

“Tujuan dari proctorship ini bagaimana masyarakat tidak lagi berobat untuk penyakit-penyakit berat ke Jakarta. Kita ingin layanan kesehatan yang berkualitas itu bisa tersedia di Kepri,” ujar Ansar.

Ia menjelaskan, Kepri saat ini memiliki 13 rumah sakit milik pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota, ditambah 96 puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah. Meski demikian, peningkatan mutu pelayanan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui pengembangan infrastruktur maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ansar menegaskan bahwa pemerintah daerah memikul tanggung jawab besar dalam penyelenggaraan sektor pendidikan dan kesehatan. Ia juga menyebutkan bahwa alokasi anggaran kesehatan di Kepri telah melampaui batas minimal yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.

“Kalau kita bicara kualitas layanan dan kualitas infrastruktur yang tersedia, memang pemerintah pusat harus memberikan perhatian kepada daerah-daerah yang berada di wilayah Barat Indonesia, termasuk daerah kepulauan seperti Kepri,” katanya.

Lebih lanjut, Ansar menyampaikan bahwa kapasitas RSUD Raja Ahmad Tabib terus dikembangkan sebagai rumah sakit rujukan tingkat provinsi. Saat ini, Pemprov Kepri tengah membangun gedung poliklinik enam lantai yang nantinya akan terhubung dengan gedung utama. Pengembangan fasilitas juga mencakup peningkatan layanan rawat inap.

Selain pembangunan infrastruktur, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi aspek penting dalam transformasi layanan kesehatan di Kepulauan Riau.

Pemprov Kepri saat ini memberikan dukungan pendidikan kepada 58 dokter spesialis dan subspesialis yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis di rumah sakit tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan tenaga medis dalam memberikan layanan dasar dan layanan penunjang di daerah.

“Sebagian sudah ada yang lulus dan sebagian masih dalam proses. Mudah-mudahan ini bisa memenuhi semua layanan dasar dan layanan penunjang di rumah sakit kabupaten/kota,” ujar Ansar.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya dilihat dari meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit.

“Jangan lupa, jumlah orang yang datang lebih banyak bukanlah tanda kesuksesan rumah sakit. Justru bagaimana masyarakat tetap sehat dan tidak datang ke rumah sakit, itu yang menjadi tujuan kita,” tegasnya.

Oleh karena itu, Ansar meminta rumah sakit bersama Dinas Kesehatan untuk memperkuat sinergi dengan PKK, Posyandu, serta berbagai program promosi dan edukasi kesehatan. Langkah pencegahan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan sekaligus melakukan deteksi dini terhadap penyakit.

Proctorship Menjadi Wadah Transfer Keahlian

Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota, menjelaskan bahwa proctorship merupakan proses pemindahan pengetahuan dan keterampilan dari rumah sakit pengampu kepada rumah sakit yang mendapatkan pendampingan.

Menurutnya, pelaksanaan operasi bedah jantung terbuka menjadi salah satu tahapan penting dalam mengukur kesiapan ekosistem layanan jantung di rumah sakit. Kesiapan tersebut turut mencakup ketersediaan layanan diagnostik dan intervensi yang mendukung penanganan pasien.

“Proktor itu transfer knowledge dan skill dari pengampu ke rumah sakit yang diampu,” jelas Iwan.

Ia mengungkapkan bahwa RSJPD Harapan Kita telah mendampingi pengembangan layanan jantung di Kepulauan Riau sejak 2023. Pada saat itu, Kepri menjadi provinsi ke-21 dari total 34 provinsi yang memulai pembelajaran operasi bedah jantung terbuka melalui program pengampuan.

“Sekarang kita revitalisasi lagi. Rumah sakit pengampu di pusat mempunyai kewajiban untuk menjamin mutu pelayanan di rumah sakit yang didampingi agar standarnya sama dengan di Harapan Kita,” katanya.

Iwan menambahkan, proses pendampingan tidak hanya dilakukan ketika operasi berlangsung. Tim rumah sakit pengampu juga akan melaksanakan pemantauan, evaluasi, dan pendampingan secara berkala guna memastikan mutu pelayanan tetap terjaga sesuai standar.

Layanan Jantung RSUD Raja Ahmad Tabib Terus Mengalami Peningkatan

Direktur RSUD Raja Ahmad Tabib, dr. Bambang Utoyo, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelayanan kardiologi di rumah sakit tersebut terus berkembang. Saat ini, RSUD Raja Ahmad Tabib memiliki empat dokter spesialis jantung dan pembuluh darah serta didukung tiga dokter konsultan kardiologi intervensi, yang terdiri atas dua dokter dengan status full timer dan satu dokter part timer. Dukungan pelayanan juga melibatkan kolaborasi dengan dokter dari RSAL.

Pada layanan rawat jalan, poliklinik jantung melayani sekitar 1.600 hingga 1.760 pasien setiap bulan. Pelayanan tersebut ditunjang oleh fasilitas pemeriksaan diagnostik, seperti elektrokardiogram (EKG), ekokardiografi, treadmill, dan Coronary CT Angiografi.

Untuk penanganan pasien yang membutuhkan perawatan intensif, RSUD Raja Ahmad Tabib menyediakan layanan ICCU/CVCU dengan kapasitas empat tempat tidur.

Sementara itu, layanan intervensi melalui laboratorium kateterisasi atau catheterization laboratory (cathlab) telah beroperasi sejak 2023. Fasilitas ini digunakan untuk tindakan diagnostik dan terapeutik, termasuk emergency Percutaneous Coronary Intervention (PCI) bagi pasien dengan sindrom koroner akut.

Dalam periode Januari hingga Desember 2025, layanan cathlab mencatat sebanyak 233 prosedur, dengan 77 di antaranya merupakan kasus CAD3VD. Adapun hingga September 2026, jumlah tindakan telah mencapai 240 prosedur, termasuk 94 kasus CAD3VD atau sekitar 39 persen dari keseluruhan tindakan.

Dua Pasien Dipersiapkan Menjalani Operasi Bedah Jantung Terbuka

Dalam rangkaian kegiatan proctorship tersebut, tim heart team RSUD Raja Ahmad Tabib bersama tim RSJPD Harapan Kita telah melakukan seleksi dan evaluasi terhadap pasien untuk menentukan kelayakan tindakan operasi.

Hasil evaluasi menetapkan dua pasien untuk menjalani operasi bedah jantung terbuka. Selain itu, satu pasien lainnya disiapkan sebagai pasien cadangan.

Program proctorship ini berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan meliputi persiapan dan pembekalan tim medis, pelaksanaan operasi bersama proktor, perawatan pasien setelah operasi di ruang ICU, serta evaluasi dan diskusi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Sumber: Diskominfo Kepri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *