Dinas Kebudayaan Kepri Gelar Workshop Bedah Gurindam Dua Belas, Gali Nilai Luhur Warisan Raja Ali Haji.
LINGGA (GTV) – Upaya menjaga kelestarian sastra Melayu terus diperkuat melalui kegiatan Workshop Bedah Gurindam Dua Belas yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk mendalami pemikiran Raja Ali Haji sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam salah satu karya sastra penting Melayu tersebut.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs. H. Tamrin Dahlan, M.Si., Prof. Dr. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd., dan Hanafi Ekra, S.Ag., M.Pd.I. Turut hadir kepala sekolah, para guru, serta tokoh masyarakat Kabupaten Lingga yang mengikuti pembahasan mengenai relevansi Gurindam Dua Belas dalam kehidupan masa kini.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak menelaah kandungan gurindam dari beragam sudut pandang, mulai dari pembentukan budi pekerti, nilai keislaman, pendidikan karakter, hingga tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Gurindam Dua Belas, Sastra yang Sarat Makna Kehidupan
Prof. Dr. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd. menjelaskan bahwa Gurindam Dua Belas mempunyai kedudukan istimewa dalam khazanah sastra Melayu. Karya Raja Ali Haji tersebut tidak hanya menonjolkan keindahan bahasa dan susunan rima, tetapi juga menyampaikan nasihat moral serta pedoman kehidupan yang masih relevan untuk diterapkan hingga sekarang.

Ditulis pada 23 Rajab 1263 Hijriah atau 6 Juli 1847 Masehi di Pulau Penyengat Indera Sakti, Gurindam Dua Belas dikenal melalui bait-baitnya yang singkat, tetapi mengandung pesan mendalam. Setiap bait tersusun atas dua baris yang saling berhubungan, dengan baris pertama menyampaikan sebab atau syarat dan baris kedua menjelaskan akibat atau jawabannya.
“kekuatan karya tersebut terletak pada kemampuannya menyampaikan tuntunan tentang moral, budi pekerti, serta hubungan manusia dengan sesama dan Tuhan melalui bahasa yang ringkas dan mudah diingat”, ungkap Abdul Malik.
Salah satu bait yang menggambarkan pesan tersebut berbunyi:
“Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa.”
Petikan ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan ataupun kedudukan, melainkan tercermin melalui perilaku, tutur kata, dan keluhuran budi.
Dalam dunia pendidikan, Gurindam Dua Belas dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sastra sekaligus media pembentukan karakter. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat membantu menanamkan sikap santun, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain kepada generasi muda.
Pengaruh karya ini juga melampaui lingkungan masyarakat Melayu. Gurindam Dua Belas telah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Belanda dan Inggris. Sementara itu, perkembangan sastra gurindam turut terlihat melalui antologi Gurindam Kalbu, yang menghimpun lebih dari seribu penulis dari lima negara ASEAN. Pada 2022, buku tersebut tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai buku gurindam dengan jumlah penulis terbanyak di dunia.
Abdul Malik menegaskan bahwa warisan sastra tidak seharusnya hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah. Lebih dari itu, karya-karya tersebut menyimpan kebijaksanaan yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi kehidupan masa kini.
Nilai Keislaman dan Pembentukan Akhlak dalam Gurindam
Narasumber Hanafi Ekra, S.Ag., M.Pd.I. menyoroti eratnya hubungan antara sastra Melayu dan nilai-nilai keislaman yang tercermin dalam Gurindam Dua Belas. Menurutnya, karya Raja Ali Haji ini bukan sekadar peninggalan kesusastraan klasik, melainkan juga sarana untuk menyampaikan nasihat moral dan tuntunan dalam menjalani kehidupan.
Nilai ketauhidan, akhlak, serta kesadaran akan tanggung jawab manusia menjadi bagian penting dalam memahami pesan yang disampaikan melalui bait-bait gurindam.
Hanafi menjelaskan bahwa rangkaian bait yang padat makna tersebut mengajarkan pentingnya menjadikan kebaikan sebagai dasar dalam berpikir, bertutur, dan bertindak. Pesan-pesan itu juga mengingatkan manusia untuk menjaga hubungan dengan Tuhan serta memperlakukan sesama dengan baik.

Nilai akhlak, misalnya, dapat ditemukan dalam petikan:
“Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa.”
Bait tersebut mengandung pengingat bahwa kualitas pribadi seseorang dapat dikenali melalui keluhuran perilaku dan kesantunan dalam berbahasa. Prinsip ini sejalan dengan pendidikan karakter yang mengutamakan kejujuran, kesopanan, dan sikap saling menghormati.
“Gurindam juga dapat menjadi media pembelajaran moral dan keagamaan yang dekat dengan tradisi budaya masyarakat Melayu. Melalui pendekatan sastra, nilai-nilai kebaikan dapat diperkenalkan kepada generasi muda secara lebih kontekstual dan bermakna”, ungkap Hanafi.
Ia menilai bahwa mempelajari Gurindam Dua Belas tidak cukup hanya untuk mengenal sejarah sastra, tetapi juga perlu disertai upaya memahami dan menerapkan pesan-pesannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pelestarian karya Raja Ali Haji diharapkan mampu memperkuat identitas budaya, membangun karakter generasi muda, serta menjaga agar warisan sastra Melayu tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dua Belas Pasal Gurindam sebagai Pedoman Karakter dan Kepemimpinan
Sementara itu, Drs. H. Tamrin Dahlan, M.Si. memaparkan bahwa Gurindam Dua Belas mengandung cakupan nilai yang luas. Selain membahas persoalan keagamaan dan akhlak, karya ini juga memuat tuntunan mengenai pendidikan, hubungan sosial, tanggung jawab keluarga, hingga prinsip kepemimpinan dan pemerintahan.
Raja Ali Haji, yang lahir di Pulau Penyengat pada 1808 dan wafat pada 1873, dikenal sebagai tokoh intelektual Melayu yang menghasilkan berbagai karya penting. Selain Gurindam Dua Belas, sejumlah karyanya meliputi Bustanul Katibin, Kitab Pengetahuan Bahasa, Silsilah Melayu dan Bugis, serta Tuhfat al-Nafis. Atas kontribusinya terhadap perkembangan bahasa dan kebudayaan, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2004.

“Gurindam Dua Belas terdiri atas dua belas pasal yang membahas berbagai dimensi kehidupan manusia. Pasal-pasal tersebut memberikan tuntunan mulai dari keimanan, ibadah, pengendalian diri, pembentukan akhlak, hingga tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”, ungkap Tamrin.
Pada pasal pertama dan kedua, pembaca diingatkan mengenai pentingnya agama, pengenalan terhadap diri sendiri, serta pelaksanaan ibadah sebagai fondasi kehidupan. Pesan ini menekankan bahwa pemahaman agama perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam keseharian.
Pasal ketiga dan keempat mengarahkan perhatian pada pengendalian hawa nafsu, penjagaan perilaku, serta pembinaan hati. Kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan amarah menjadi unsur penting dalam membentuk kepribadian yang baik.
Pesan tersebut tergambar dalam bait:
“Hati itu kerajaan di dalam tubuh,
Jikalau zalim segala anggota pun roboh.”
Bait ini menggambarkan betapa besar pengaruh keadaan hati terhadap tindakan manusia. Hati yang tidak terjaga dapat memengaruhi perilaku, sedangkan hati yang baik menjadi landasan bagi terbentuknya pribadi yang berakhlak.
Selanjutnya, pasal kelima dan keenam menekankan pentingnya budi bahasa, perilaku terpuji, semangat menuntut ilmu, serta kecermatan dalam memilih sahabat, guru, dan lingkungan pergaulan. Pesan ini mengingatkan bahwa pembentukan karakter turut dipengaruhi oleh pengetahuan dan lingkungan tempat seseorang bertumbuh.
Adapun pasal ketujuh hingga kesepuluh memberikan perhatian terhadap pengendalian ucapan, tanggung jawab moral, dan hubungan antarmanusia. Masyarakat diajak untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terbukti kebenarannya, menghindari kebiasaan mencela, menjaga amanah, serta memenuhi tanggung jawab terhadap orang tua, anak, pasangan, dan sesama.
Pada pasal kesebelas dan kedua belas, cakupan pembahasan semakin luas dengan menyinggung pengabdian kepada bangsa, keteladanan pemimpin, keadilan, musyawarah, penghormatan terhadap orang berilmu, serta kesadaran mengenai kehidupan akhirat.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang berintegritas, menghargai ilmu pengetahuan, menjunjung keadilan, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Tamrin juga menyoroti beragam nilai karakter yang dapat digali dari Gurindam Dua Belas, antara lain religiusitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, demokrasi, cinta tanah air, penghargaan terhadap prestasi, kepedulian sosial, kesabaran, serta pendidikan anak.
Menurutnya, keluasan pesan tersebut membuktikan bahwa Gurindam Dua Belas tidak hanya memiliki nilai sejarah dan sastra, tetapi juga menyimpan tuntunan yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern.
Merawat Warisan Melayu untuk Generasi Mendatang
Pelaksanaan Workshop Bedah Gurindam Dua Belas menjadi salah satu ruang untuk memperdalam pemahaman terhadap warisan intelektual Melayu sekaligus mendorong penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat.

Melalui pendidikan, pengenalan budaya, dan pelestarian bahasa, karya Raja Ali Haji diharapkan terus dikenal oleh generasi muda, tidak hanya sebagai bagian dari sejarah Kepulauan Riau, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran karakter dan kebangsaan.
Tamrin Dahlan menekankan bahwa melestarikan Gurindam Dua Belas berarti menjaga identitas budaya Melayu sekaligus memastikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipahami dan diamalkan.
Pada akhirnya, pesan yang diwariskan Raja Ali Haji mengingatkan bahwa kekayaan budaya tidak cukup hanya dikenang atau dibanggakan. Warisan tersebut perlu dipelajari, dijaga, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Dabo Singkep, semangat merawat Gurindam Dua Belas menjadi pengingat bahwa sastra Melayu bukan sekadar peninggalan masa lampau, melainkan warisan pemikiran yang terus memiliki arti bagi pembentukan karakter, penguatan identitas budaya, dan kehidupan bangsa di masa depan.(red)
