Kerapatan Adat Bintan 2026: Tonggak Peneguhan Daulat Adat di Tanah Bentan

Bintan,Kepri, 23 April 2026 (GMT) — Sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di tanah Bintan pada Rabu, 22 April 2026. Ratusan zuriat dan waris adat berhimpun dalam Majlis Kerapatan Adat Bintan yang digelar di Gedung Kerapatan Adat Bintan, Istana Setanggi Kencana.(23/4/2026)
Kegiatan ini diprakarsai oleh Zuriat dan Waris Tun Telanai bersama Majlis Al-Syura Bentan dengan mengusung tema besar “Mendaulat Adat Istiadat Bentan.” Kerapatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan momentum penting dalam meneguhkan kembali keberlangsungan adat Melayu Bentan sebagai hak waris turun-temurun yang tidak terputus oleh zaman.
Pembukaan Sakral Penuh Makna
Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh pembawa acara, Nuri Che Shiddiq. Dalam pembukaannya ditegaskan bahwa majlis ini merupakan pertemuan zuriat yang memikul amanah sejarah dan marwah adat.
“Adat kembali ditegakkan, daulat kembali dimartabatkan, dan zuriat tidak lagi lupa akan asal usulnya,” demikian disampaikan dalam pembukaan majlis.
Nuansa sakral terasa sejak awal, mencerminkan bahwa kegiatan ini berada dalam bingkai adat, spiritualitas, serta legitimasi sejarah.
Penguatan Struktur Adat
Salah satu agenda utama adalah pemasyhuran dan penguatan struktur adat melalui pembacaan Warkah Daulat Adat Bentan, yang menegaskan kesinambungan silsilah serta hak daulat zuriat asli.
Dalam kerapatan ini juga ditegaskan kembali kedudukan Majlis Al-Syura Bentan sebagai lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan adat, dengan empat sendi utama sebagai tiang seri negeri:
- Mamanda Bentan Enau
- Kakanda Penghulu Bentan
- Ananda Bukit Batu
- Saudara Bintan Buyu
Keempat sendi tersebut menjadi simbol keseimbangan antara kekuasaan, adat, spiritualitas, dan persatuan zuriat.
Penandatanganan Watikah: Puncak Daulat
Puncak acara ditandai dengan penandatanganan Watikah Kerapatan Adat Bentan, yang menjadi bentuk kesepakatan bersama seluruh unsur adat untuk:
- Menegaskan hak daulat hanya pada zuriat sah
- Menolak segala bentuk pemalsuan nasab dan adat
- Melarang penguasaan adat oleh pihak tanpa legitimasi
- Mengukuhkan kembali hukum adat sebagai dasar kehidupan masyarakat Bentan
Peristiwa ini disebut sebagai puncak perikatan adat sekaligus tonggak kebangkitan identitas dan kedaulatan Melayu Bentan.
Doa Daulat dan Wasiat Leluhur
Majlis ditutup dengan doa daulat yang penuh khidmat, dilanjutkan pembacaan Wasiat Tun Telanai sebagai pedoman spiritual bagi seluruh zuriat:
“Hidup dalam daulat, mati dalam iman, dan tidak mengkhianati asal usul.”
Seruan penutup juga menegaskan semangat persatuan:
“Daulat Bentan tidak akan hilang, selagi anak cucunya tidak lupa.”
Dampak dan Harapan
Kerapatan Adat Bintan 2026 ini dinilai sebagai langkah strategis dalam:
- Mengembalikan otoritas adat kepada pemilik sah
- Memperkuat identitas budaya Melayu di Bintan
- Mendorong pengembangan wisata budaya berbasis sejarah dan adat
Dengan keterlibatan para pemangku adat, tokoh masyarakat, serta zuriat, kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi masa depan adat Melayu Bentan yang berdaulat, berakar, dan berkelanjutan.
(
