DaerahTanjungpinangTV News

Dinas Kebudayaan Kepri Gelar Sarasehan Baju Kebaya Labuh di Gedung Dekranasda Tanjungpinang

Tanjungpinang –  Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau mengelar acara sarasehan kebaya labuh untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya daerah nenek moyang di gedung Dekranasda Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau, Senin (19/08/2024).

Kepala Bidang Tradisi Dinas kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, Budhiharti dalam laporanya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dengan latar belakang dimana Baju Kebaya Labuh telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda  Indonesia (WBTBi) oleh Kemdikbud Ristek pada Tahun 2021.

Dengan Domain Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, dan saat Baju Kebaya labuh menjadi salah satu kebaya bersama kebaya kerancang Betawi yang akan diajukan Indonesia sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) – UNESCO melalui skema joint nomination lima negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

“Perlu langkah-langkah yang disiapkan dalam upaya dukungan baju kebaya labuh menuju warisan dunia dan melestarikan baju kebaya labuh sebagai warisan budaya bangsa Indonesia”, ungkap Budhiharti.

Budhiharti mengatakan warisan budaya takbenda Indonesia yang sudah ditetapkan tidak selesai hanya sampai ditetapkannya sebagai warisan budaya nasional, namun perlu tindak lanjut yang nyata agar warisan budaya takbenda yang ada di Kepulauan Riau tetap terlindungi.

“Warisan budaya takbenda yang ditetapkan menjadi WBTB Indonesia harus dapat di manfaatkan bagi masyarakat baik pemilik budaya maupun untuk masyarakat luas”, Ungkap Budhiharti.

Sehingga terkait permasalahan diatas, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau   mengadakan Sub Kegiatan Perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan Objek Pemajuan Kebudayaan dengan kegiatan sarasehan Baju Kebaya Labuh.

Tujuan dari Kegiatan Sarasehan Baju Kebaya Labuh ini meliputi, meningkatkan pengelolaan terhadap baju kebaya labuh di Kepulauan Riau, terlestarikannya kebaya labuh, memperkuat nilai-nilai karakter kepribadian dan jati diri masyarakat Kepulauan Riau, kebaya labuh Kepulauan Riau dikenal Masyarakat terutama generasi muda sehingga terwujudnya Provinsi Kepulauan yang makmur dan berdaya saing dan berbudaya, mempromosikan kebaya labuh kepada generasi muda dan dunia internasional, memakai kebaya Labuh dalam berbagai kegiatan formal dan informal, mendukung industri kebaya Labuh agar terus berkembang.

Sementara itu Juramadi Esram Kepala Dinas Kebudayaan Kepri mewakili gubernur Kepri menyampaikan sambutannya bahwa pembangunan kebudayaan di Provinsi Kepulauan Riau diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya daerah nenek moyang kita.

“Dalam rangka menumbuhkan pemahaman dan penghargaan masyarakat pada warisan budaya lokal daerah itu sendiri dan kebudayaan bangsa pada umumnya, maka perlu ditingkatkan kualitas berbudaya masyarakat, menumbuhkan sikap kritis terhadap nilai-nilai budaya dan memperkokoh ketahanan budaya daerah”, ungkap Juramadi Esram.

“Pemerintah bersama-sama seluruh komponen masyarakat terus melakukan berbagai upaya dan tindakan untuk melestarikan budaya daerah, salah satu adalah baju kebaya labuh”, ungkap Juramadi Esram.

Baju Kebaya labuh merupakan salah satu pakaian tradisional perempuan melayu yang berasal dari kepulauan riau. pakaian ini telah menjadi bagian dari budaya melayu sejak zaman kerajaan lingga-riau dahulu, lebih banyak dikenakan oleh perempuan bangsawan dan kalangan elit.

Seiring waktu mulai digemari oleh masyarakat luas dan menjadi salah satu ikon pakaian adat Kepulauan Riau kebaya labuh merupakan ekspresi dari identitas perempuan melayu kepulauan riau yang berlandaskan syariat islam.

Sampai saat ini baju kebaya labuh menjadi   citra sebagai diri perempuan melayu Kepulauan Riau, model kebaya labuh tradisonal baju yang labuh sampai ke bawah lutut dan berbelah dihadapan sampai ke bawah.

Kebaya labuh mempunyai kekek di bawah ketiak kiri dan kanan iuga berpesak dibagian depan, kebaya labuh menggunakan tiga kancing yang disemat dengan pin atau keronsang, adalah dengan menutup seluruh tubuh sebagaimana syariat islam yang menjadi keyakinan masyarakat kepulauan riau.

Baju kebaya labuh yang digunakan oleh masyarakat melayu sekarang merupakan warisan dari kearifan lokal dalam bentuk budaya masyarakat masa lalu.  rancangan pola baju kebaya labuh terlihat unsur pengaruh agama islam dari segala aspek, baik pada baju bagian atas maupun baju bagian bawah.

Bahan dari kebaya labuh dibuat dari berbagai jenis kain, seperti sutra, brokat, dan katun. penggunaan kain yang beragam ini memberikan variasi pada tampilannya. motif dan hiasannya sering kali menggunakan berbagai motif dan sulaman yang indah. motif-motif ini biasanya terinspirasi dari alam dan budaya melayu. motif-motif dan sulaman yang indah pada kebaya labuh semakin menambah keindahan penampilan.

Di era modern, Baju kebaya labuh tidak lagi hanya digunakan dalam acara adat dan budaya.  sudah  banyak yang menggunakannya sebagai pakaian formal untuk acara-acara spesial seperti pernikahan, wisuda, dan pesta, dengan berbagai modifikasi sentuhan modern. Inilah yang membuat kebaya labuh semakin digemari oleh berbagai kalangan usia.

Diakhir sambutanya, Juramadi Esram berpesan “Baju kebaya labuh merupakan salah satu warisan budaya melayu yang patut kita dilestarikan bersama, keindahan dan keanggunannya, baju kebaya labuh menjadikan simbol identitas budaya  melayu yang harus kita jaga warisannya kepada generasi penerus”.

Penyelenggarakan kegiatan sarasehan baju kebaya labuh sebagai upaya pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan kebaya labuh tetap terjaga dan mampu bertahan dari generasi ke generasi sebagai kekuatan budaya dalam pembangunan berkelanjutan.

“Semoga dengan adanya kegiatan sarasehan baju kebaya labuh ini para peserta dapat mendapatkan informasi yang jelas dan langkah-langkah serta strategi dalam upaya pelestarian baju kebaya labuh menuju warisan dunia”, ungkap Juramadi Esram.

Sementara itu narasumber dalam acara sarasehan baju kebaya labuh Raja Suzana Fitri mengatakan sejarah perkembangan pakaian melayu Kepulauan Riau sejalan dan sehaluan dengan kejayaan kebesaran kerajaan Melayu Johor-Riau tahun 1511-1787, yang kemudian menjadi kerajaan Lingga – Riau tahun 1787 – 1913.

Dalam Sejarah Melayu atau Hikayat Hang Tuah cukup banyak gambaran yang menyatakan bahwa seseorang yang berhasil melaksanakan perintah raja lalu “diberi persalinan dengan selengkap pakaian”, dan “memakailah pakaian yang indah- indah”. Ungkap Raja Suzana Fitri.

Kebaya Labuh adalah Pakaian wanita Melayu sejak zaman silam yang mengandung kearifan  dalam lambang-lambang dan kiasan serta menunjukkan kehalusan budi para leluhur kita dalam hidup bermasyarakat.

Sementara itu narasumber dari Direktorat Pelindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hartati Maya Krishna menyampaikan bahwa salah satu pakaian tradisional Indonesia, kebaya memiliki sejarah panjang yang mencerminkan keberagaman budaya. Upaya pengusulan bersama dengan negara-negara tetangga ke ICH UNESCO bertujuan untuk menjaga kebaya sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

“Kebaya, sebagai warisan budaya takbenda Indonesia, memiliki nilai penting untuk diperkenalkan dan dilestarikan melalui program Pendidikan”, ungkap Hartati.

Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan bagi sekolah dan komunitas untuk mengintegrasikan elemen-elemen budaya lokal, seperti kebaya, ke dalam pembelajaran. Melalui pendekatan ini, generasi muda dapat mempelajari, mengapresiasi, dan berpartisipasi dalam menjaga tradisi kebaya sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa.

Hadir dalam kegiatan tersebut ketua Dekransada, kepala  BPK Wilayah IV, Kepala  OPD, Ketua LAM Provinsi Kepulauan Riau, Ketua LAM Kota Tanjungpinang, ketua LAM Kabupaten Bintan, kepala sekolah/guru, Dekranasda Prov Kepri, Dharma Wanita Prov Kepri, Perguruan Tinggi, Desainer, Pengrajin penjahit dan Pemilik usaha toko.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *